Minat Baca Masyarakat Indonesia di Era ChatGPT dan Google AI - Arya Efendy ID

Minat Baca Masyarakat Indonesia di Era ChatGPT dan Google AI

Table of Contents

Tepatnya pada 18 Oktober 2025, saya membaca berita di Kompas.com , tentang Presiden Prabowo Subianto yang masih membaca buku dua jam setiap hari meski sekarang sudah ada teknologi Google AI dan ChatGPT. Kalimat itu sangat menarik dan mendorong saya untuk menulis ini. sebuah refleksi tentang minat baca di era digital. Sepertinya memang, kita ini kadang lupa bagaimana menikmati proses membaca itu sendiri.

Ketika Presiden Prabowo Subianto mengaku masih menyempatkan diri membaca buku selama dua jam setiap hari, sebagian dari kita mungkin agak tertegun, bukan karena dua jam itu luar biasa tapi karena di tengah arus informasi digital yang begitu cepat dan mudah diakses, membaca buku dua jam terasa seperti lari maraton yang melelahkan.

Sekarang ada pakde Google dan ChatGPT”, ujar beliau, ringan namun sepertinya ada sesuatu yang beliau ingin sampaikan. Agh ungkapan apa ini? kita ini sekarang hidup di era di mana pengetahuan praktis terasa instan tetapi kedalaman berpikir makin terabaikan di antara notifikasi.

Jika seorang pemimpin menyisihkan waktu untuk membaca buku, bukankah ini seharusnya menjadi pesan istimewa bahwa membaca buku itu sangat penting?

Mengapa Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Masalahnya bukan karena kita tidak mau membaca, melainkan karena membaca buku itu belum menjadi kebiasaan yang benar-benar menarik. Dulu awal kuliah pernah di posisi itu, bacaannnya masih aneh-anehlah, nah barulah setelah aktif mengikuti Perkaderan HMI, kesadaran itu mulai ditanamkan pelan-pelan tentang bagaimana pentingnya membaca buku, ya paling tidak perbendaharaan kata kita membaik, kita lebih mudah mengekspresikan gagasan dan memahami hal-hal luar biasa yang ada disekitar kita.

Coba perhatikan saja, banyak yang hanya suka membaca judul, caption, status media sosial tapi ketika dibawa ke bacaan yang butuh konsentrasi lebih dari 10 menit, nah disini seringkali terhenti. Kebiasaan dan kemudahan scroll menggantikan tuntunan membaca dengan konsentrasi yang baik.

Literasi Setengah Nafas

Kebiasaan membaca kita sepertinya lebih mirip fastfood literasi, cepat, praktis, instan. Konsumsinya ringan, pengenalan cepat, pemahamannya yang kadang hilang. Lihatlah bagaimana media sosial, setiap beberapa detik muncul stimulus baru, akibatnya otak jadi terbiasa tidak focus.

Nah pada konteks ini membaca buku yang butuh waktu dan ketekunan, terasa lambat dan membosankan padahal justru di sanalah akar berpikir serius kritis itu tumbuh. Coba renungkan, jika presiden kita saja masih melapangkan dua jamnya membaca buku setiap hari, bukankah itu sindiran halus bahwa kecerdasan bukan tumbuh dari scroll tapi dari jeda antara tulisan?

Lagian kalau setiap harinya yang dibaca hanya curhatan di Story WhatsApp Instagram atau Facebook misalnya, ya jangan heran kalau yang tumbuh itu bukan wawasan tapi emosi, contohnya iri hati, dengki, baper bahkan kadang muncul ilusi seolah hidup orang lain selalu lebih bahagia dari hidup sendiri. Lalu kemudian cerita kesana kemari, akhirnya kan ketahuan kualitas bacaannya seperti apa.

Teknologi yang Memanjakan Sekaligus Melumpuhkan

Di era ­ChatGPT dan Google AI, jawaban atas pertanyaan apapun bisa muncul dalam hitungan detik. Hanya saja, semakin mudah kita mendapatkan jawaban maka kemungkinan semakin jarang kita mengajukan pertanyaan yang lebih serius. Kalau ada yang lebih mudah, kenapa harus yang susah, iya kan? Nah berani beda sendiri akan dianggap aneh, tergantung pilihan masing-masinglah ya.

Teknologi harusnya menjadi jembatan menuju pengetahuan, tapi pada kenyataannya banyak yang menggunakan AI sebagai pengganti proses berpikir kritis. Tinggal duduk santai, tulis promptnya kemudian menerima tanpa membacanya dengan baik.

Komunitas Literasi yang kehilangan bentuk

Gerakan literasi di Indonesia sebenarnya digerakkan dengan semangat yang luar biasa. Tapi ironisnya sebagian besar komunitas kemudian lebih sibuk mengejar jumlah peserta, sponsor dan event daripada mendalami esensi literasi itu sendiri. Aktivitas seperti seminar berbayar, lomba ini itulah, penjualan buku massal dan lain sebagainya. Menarik iya, namun seringkali berakhir hanya sebagai pesta literasi, ramai sesaat, sunyi setelahnya, tidak lagi fokus pada esensinya, membentuk karakter berpikir yang kritis dan berbudaya.

Entah literasi yang saya pahami berbeda atau dianggap keliru, lebih tepatnya saya memahaminya sebagai kebiasaan membaca, berdialog, merenung dan menulis kembali. Sederhananya mungkin kita butuh lebih banyak ruang yang bebas dari agenda komersial misalnya pojok baca sederhana di manaaaa gitu, diskusi buku di taman misalnya, atau perpustakaan mini komunitas literasi yang aktif.

Membaca Buku Bukan Kewajiban, Tapi…

Bagaimana supaya minat membaca buku itu hadir dan menjadi kebiasaan? sebenarnya kita hanya perlu memulai dari hal sederhana, cukup luangkan sepuluh menit setiap hari, tidak harus buku tebal yang penting konsisten. Jika belum memiliki buku, bisa juga memulai membangun ketertarikan membaca melalui Google News dan MSN News, yang penting adalah kita terus menjaga rasa ingin tahu.

Bagi saya, membaca buku itu bukan kewajiban tapi solusi agar tetap waras di tengah banyaknya informasi.

Penutup

Teknologi mampu memberikan kita kecepatan dan kemudahan informasi, tapi belum tentu dengan ketepatannya, termasuk tidak ada AI yang bisa menggantikan pengalaman batin ketika membaca kalimat yang menyentuh hati dan jiwa.

Kecerdasan itu tumbuh melalui kebiasaan membaca, berdialog, merenung dan kemudian menulis ulang idenya. Ambil satu buku hari ini. Mulai dari 5 hingga 10 halaman. Memulainya tidak perlu membaca dua jam penuh seperti Presiden kita Prabowo Subianto tapi cukup membangun kebiasaan kecil yang konsisten.

Ada ungkapan, mereka yang meminjamkan buku itu bodoh, tapi lebih bodoh yang mengembalikannya setelah ia pinjam. Mungkin benar karena buku bukan sebatas benda tapi kenangan kecil antara pembaca dan pikirannya sendiri. Dulu, ungkapan itu terdengar lucu namun sekarang ironi itu berubah, banyak orang bahkan tidak sempat lagi meminjam, apalagi mengembalikan, sebab bukupun sudah jarang tersentuh. Siapa lagi yang masih tertarik membacanya?



Oleh Arya Efendy – pembaca yang sering kalah cepat dari notifikasi